Just another WordPress.com weblog

Nelayan Wanita Keluhkan Harga Ikan

Sejumlah anggota Koperasi Wanita Nelayan Mino Rekso Kota Tegal mengaku terkendala mahalnya harga ikan, untuk melangsungkan berbagai usaha mereka. Akibatnya, sebagian dari mereka terpaksa berhenti berusaha. Padahal, usaha pengolahan ikan merupakan satu-s atunya keahlian yang mereka miliki dan dapatkan dari koperasi.

Bendahara Koperasi Wanita Nelayan Mino Rekso, Sunarti, Jumat (11/7) mengatakan, koperasi wanita nelayan didirikan sejak tahun 2000. Pendirian koperasi dimaksudkan untuk membantu para isteri nelayan agar bisa mandiri.

Mereka diberi pelatihan oleh pemerintah mengenai teknik pengolahan ikan, seperti pembuatan ikan asin, filet (pengelupasan daging ikan dari durinya), pembuatan bandeng presto, bandeng gepuk, rempeyek ikan, dan berbagai jenis pengolahan ikan lainnya.

Dengan bekal keterampilan itu, para isteri nelayan mulai berusaha. Hingga saat ini, jumlah anggota koperasi sekitar 50 orang. Di dalam koperasi itu juga terdapat delapan kelompok usaha yang masing-masing beranggotakan sekitar 20 orang. “Dengan tergabung melalui koperasi, mereka memulai usaha. Meskipun kecil, tapi lumayan bisa untuk membantu membiayai kebutuhan keluarga,” ujar Sunarti.

Namun sejak lebih dari tiga bulan lalu, kelangsungan usaha para anggota koperasi terancam. Pasalnya harga ikan, termasuk bandeng terus naik. Saat ini harga ikan untuk bahan filet, seperi ikan kuniran mencapai Rp 150.000 per keranjang isi 30 kilogram, dan ikan merahan Rp 120.000 per keranjang. Sebelumnya, harga tiga jenis ikan itu hanya berkisar Rp 50.000 hingga Rp 90.000 per keranjang.

Harga bandeng juga mahal, mencapai Rp 13.000 per kilogram. Sebelumnya, harga bandeng hanya sekitar Rp 9.000 hingga Rp 10.000 per kilogram. “Kalau harga bandeng mentah sudah mahal segitu, bagaimana mau menjual bandeng matengnya. Apalagi konsumen kami merup akan konsumen kelas menengah ke bawah,” tutur Sunarti.

Menurut Sunarti, kenaikan harga ikan disebabkan munculnya perusahaan pengolahan ikan milik orang asing yang beroperasi di Tegal. Ikan dari nelayan banyak terserap ke perusahaan itu dengan harga tinggi, sehingga pengusaha lokal tidak mampu mengimbanginya. Koperasi sendiri tidak mampu menyediakan ikan dengan harga murah karena tidak memiliki cukup modal. Akibat kondisi itu, saat ini hampir separuh anggota koperasi terpaksa berhenti usaha.

Diah Nurningsih (30), anggota Koperasi Wanita Nelayan Mino Rekso mengatakan, kehadiran koperasi sebenarnya cukup membantu mereka untuk mampu menciptakan usaha sendiri. Namun selama ini, keterampilan yang diperoleh masih sebats pengolahan ikan.

Akibatnya, ketergantungan mereka terhadap hasil laut sangat tinggi. Saat harga ikan mahal seperti saat ini, mereka kesulitan menjalankan usaha. Selama ini, Diah memproduksi bandeng gepuk dan ikan asin. Karena harga ikan mahal, ia hanya berproduksi saat ada pesanan.

Oleh karena itu, ia berharap agar pemerintah memberikan keterampilan lain kepada isteri nelayan melalui koperasi. Hal itu diantaranya dalam bentuk pelatihan pengolahan makanan ringan dan tata rias atau kecantikan.

http://www.kompas.com/read/xml/2008/07/11/17153477/koperasi.wanita.nelayan.keluhkan.harga.ikan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s